KPK Jadwalkan Periksa Politisi

detiknews

detiknews Komisi Pemberantasan Korupsi pekan ini bakal kembali memanggil para tokoh-tokoh politik untuk diperiksa terkait kasus korupsi pengadaan KTP elektronik.

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan sebelumnya penyidik telah melakukan pemeriksaan 120 saksi yang sebagian besar berasal dari birokrasi dan swasta, serta advokat.

detiknews Sekarang KPK akan mendalami fakta-fakta terkait dengan peran sejumlah anggota DPR saat itu. Minggu ini kt intens ke proses pembahasan anggaran atau indikasi pertemuan dan aliran dana,”paparnya, Senin (3/7/2017).

Dia mengatakan, KPK memang tengah memfokuskan penyidikan terhadap indikasi aliran dana sehingga berharap para saksi yang akan dipanggil pekan ini bisa memenuhi panggilan tersebut. Adapun nama-nama politisi yang bakal dipanggil akan diumumkan kemudian.

detiknews Pada Senin, KPK mengagendakan pemeriksaan terhadap tiga orang saksi yakni Yasonna Laoly, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang merupakan mantan anggota DPR periode 2009-2014 dan sempat disebut menerima aliran dana terkait kasus korupsi tersebut sebesar US$84.000.

Menurutnya, penyidik melakukan pendalaman materi terkait dengan proses awal pembahasan anggaran KTP elektronik dan juga informasi indikasi aliran dana jadi hal yang dikonfirmasikan kepada Yasonna Laoly.

“Sebagian besar informasi ini sudah dimunculkan dan menjadi fakta persidangan dan juga tertuang dalam tuntutan terhadap terdakwa Irman dan Sugiharto dari Kementerian Dalam Negeri,” tambahnya.

detiknews Ditemui seusai diperiksa, Yasonna mengatakan bahwa sebagai warga negara yang baik dia berkewajiban untuk memenuhi panggilan penyidik KPK.

Selain itu, dia juga mesti memenuhi panggilan itu karena sebelumnya dia tidak memenuhi panggilan karena di saat yang sama tengah melakukan tugas negara yakni rapat kerja dan kunungan kerja ke luar negeri.

“Saya dipanggil sebagai saksi mengenai kasus KTP elektronik, yang berkaitan dengan Andi Narogong [Agustinus], Irman dan Sugiharto. Saya ditanya tentang data diri, pekerjaan dan tugas sebagai anggota DPR,” paparnya.

detiknews Dalam kesempatan itu Yasonna kembali membantah bahwa dia menerima aliran dana sebesar US$84.000. “Pokoknya saya sudah jelaskan semua ke penyidik”.

Dua orang saksi lainnya yang diagendakan akan diperiksa adalah Ade Komarudin beserta istrinya Netty Marliza.

detiknews Akan tetapi, menurut Febri Diansyah, keduanya telah menginformasikan bahwa sedang tidak berada di Jakarta sehingga KPK akan melakukan penjadwalan ulang pemeriksaan terhadap keduanya.

Miryam

Sementara itu, pada hari yang sama, KPK telah melakukan pelimpahan berkas perkara dugaan pemberian keterangan tidak benar dalam persidangan korupsi KTP elektronik dengan tersangka Miryam S. Haryani, politisi Partai Hati Nurani Rakyat (Hanuara). Dengan demikian, dalam waktu tidak terlaly lama lagi kasus tersebut segera disidangkan.

detiknews Febri mengatakan pihaknya sangat berharap berbagai informasi yang dibutuhkan terkait dengan perkara Miryam atau yang masih ada kaitannya dengan kasus korupsi KTP elektronik bisa disimak di persidangan.

Ucapan ini berkaitan erat dengan keinginan panitia khusus hak angket DPR yang sebelumnya getol ingin agar KPK membuka rekaman pemeriksaan Miryam sewaktu menjadi saksi dalam kasus korupsi KTP elektronik, beserta bukti acara pemeriksaannya bahkan menghadirkan politisi asal Bandung, Jawa Barat tersebut. detiknews

Polisi Periksa 12 Saksi Terkait Teror di Polda Sumut

detiknews

detiknews Polisi telah memeriksa 12 orang saksi terkait teror yang terjadi di Mapolda Sumut. Lima orang di antaranya masih ditahan Mako Brimob Polda untuk pemeriksaan lebih dalam.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, 12 orang yang diperiksa sebagai saksi itu adalah anggota keluarga dari dua orang penyerang Mapolda Sumut. “Hingga kini saksi yang diperiksa sebanyak 12 orang. Saksi ada juga dari polisi yang melihat kejadian. Lalu saksi dari percetakan yang diduga mencetak logo ISIS. Orangtua dan anak dari pelaku penyerang Mapolda juga diperiksa sebagai saksi,” ujar Kombes Rina, Senin malam (26/6/2017).

detiknews Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, setelah mengamankan 12 orang sebagai saksi, pihaknya menetapkan seorang tersangka yakni Boboy alias Hendri. “Tim dari gabungan Densus 88 dengan Polda Sumut hingga tadi malam sudah mengamankan 12 orang saksi yang terus dilakukan pemeriksaan, pendalaman. Saksi-saksi ini ada beberapa orang yang terus dilakukan pendalaman terkait dengan peranan mereka. Hasilnya, satu orang ditetapkan sebagai tersangka yang memiliki peranan melakukan survei, dan pemetaan tentang lokasi Polda Sumut,” kata Rina di Mapolda Sumut, Senin (26/6).

Selain memeriksa saksi-saksi, polisi juga mengamankan berbagai barang bukti terkait penyerangan di Mapolda Sumut. Namun, belum ada bahan peledak atau bahan bakar diantara barang bukti yang disita. “Ada beberapa alat komunikasi yang disita, baik dari rumah pelaku SP, dan AR (tersangka). Terus dilakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan itu,” ujar Kombes Rina.

Sebelumnya, dua orang terduga teroris yang terlibat dengan ISIS berinisial AR dan SP diduga menusuk seorang personel kepolisian bernama Aiptu Martua Sigalingging hingga tewas saat sedang bertugas menjaga Mapolda Sumatera Utara (Sumut), Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan pada Minggu pagi, 25 Juni 2017.

Pihak kepolisian juga telah mengamankan lima orang yang diduga membantu AR dan SP untuk menyerang Mapolda Sumut. AR tewas karena terkena tembakan polisi karena mencoba kabur. Sedangkan SP masih dirawat di rumah sakit Bhayangkara Medan karena mendapat luka tembak di bagian kaki. detiknews